Download gratis best operamini terbaru gratis ,gratis download free

Download gratis best operamini terbaru gratis ,gratis download free

This Image was ranked 19 by Bing.com for keyword cari uang gratis.

IMAGE META DATA FOR Download gratis best operamini terbaru gratis ,gratis download free IMAGE
TITLE:Download gratis best operamini terbaru gratis ,gratis download free
IMAGE URL:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2ndCDKPiQawZvBVl9qfPIRcr4g4F7KDs4dJ9lbv4CIqbgtlen6Y6SSel5LH9aYf7zd0VNDwy87Uf0mxenQhnQEDekHW-St4stmPE2sZ5o1LR61v_UC1gYPrBqTx4a4VEIhZTyWIqNos7l/s1600/Opera-Mini.jpg
THUMBNAIL:http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4505378980104698&pid=15.1&url=http%3a%2f%2f3.bp.blogspot.com%2f-XXMC_L7T2Cs%2fT48aBYnl4KI%2fAAAAAAAAAtM%2fqQio6bakJWU%2fs1600%2fOpera-Mini.jpg
IMAGE SIZE:51.2685546875 KBs
IMAGE WIDTH:300
IMAGE HEIGHT:205
DOCUMENT ID:4505378980104698
MEDIA ID:6110EF8B1F6D55848A29DEEDD56D01DED013641C
THUMBNAIL ID:H.4505378980104698
SOURCE DOMAIN:minority761.blogspot.com
SOURCE URL:http://minority761.blogspot.com/2012/04/free-download-opera-mini-versi-terbaru.html
IMAGE HASH73484cf59923c1704537687eb554b16e
THUMBNAIL HASH8177a77d9f12e76d4b47357a60d6b5d2
SUPERFRESH STATUS:false
FRAME BREAKER STATUS:0
THUMBNAIL CROP COORDINATE:49
THUMBNAIL TYPE:3
THUMBNAIL SIZE:11698 Bites
THUMBNAIL WIDTH:300
THUMBNAIL HEIGHT:205
THUMBNAIL FORMATimage/jpeg

Suparno terpuruk, bisa bangkit karena ayam

Suparno terpuruk, bisa bangkit karena ayam

Tidak gampang putus asa adalah salah satu kunci sukses dalam menjalankan usaha. Karakter inilah yang kental tergambar pada kepribadian pemilik usaha rumah makan Ayam Lepaas, Suparno. Hanya dalam tiga tahun, dia mampu memiliki lebih dari 80 gerai.

Namanya mungkin terdengar singkat dan sederhana, Suparno. Namun dengan kesederhanaan itulah, dia melafalkan bisnis hingga mencapai sukses. Lelaki kelahiran Deli Serdang ini mampu membangun gurita usaha rumah makan Ayam Lepaas.

Rumah makan yang dirintis di Aceh ini kini berkembang pesat di Pulau Jawa, khususnya di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Sejak tahun 2009 hingga Maret 2013, Suparno sudah memiliki 81 gerai Ayam Lepaas.

Lelaki kelahiran 31 Desember 1976 ini juga mengembangkan usahanya ke Yogyakarta, Bali, hingga ke Malaysia. “Selain pulau besar di Indonesia, tahun ini kami sudah bersiap untuk membuka Ayam Lepaas di Filipina,” kata dia. Untuk ta hun ini saja, Suparno berambisi membuka 40 geraiâ€"50 gerai.

Suparno baru menerapkan sistem kerja sama dalam wujud penanaman modal, bukan berupa kemitraan atau waralaba. Menurut pengakuan Suparno, paling lama dalam waktu 25 bulan, modal investor senilai Rp 300 juta hingga Rp 500 juta untuk mengembangkan satu gerai, sudah bisa kembali. “Di awal usaha, omzet usaha ini hanya ratusan ribu per hari. Sekarang, ya, sudah sesuai targetlah,” kata Suparno.

Sambil memainkan telepon genggamnya, Suparno bercerita, “Sejak di SMP saya sudah belajar bisnis, maklum orang tua saya hanya seorang petani. Sebelumnya, sekitar tahun 1960-an, ayah saya hanya seorang tenaga kontrak perkebunan,” kisah Suparno sambil tetap tersenyum. Sejak SMP hingga SMA, Suparno sudah mulai menjual berbagai hal seperti kue, tempe, hasil bumi, dan kaus.


Bangkit dari keterpurukan

Selama tinggal di Aceh, Suparno sudah menjadi pengungsi hingga dua kali yakni tahun 1990 dan 1998. “Pada konflik tahun 1998, saya pilih menetap di Aceh, sementara orang tua mengungsi ke Binjai, Medan. Saya bertahan karena mau kuliah,” jelas lulusan Teknik Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini.

Bersama tujuh orang temannya, dia membuka usaha les privat sempoa pada tahun 2001. Dengan modal Rp 500.000 usaha itu berhasil menggaet sekitar 1.500 siswa. Namun karena berselisih dengan rekannya, Suparno lantas meninggalkan usaha les privat itu pada tahun 2003.

Suparno banting setir jadi agen asuransi. Profesi itu dilakoninya selama dua tahun. Setelah itu, Suparno mendirikan sebuah koperasi. Tahun 2004 hingga 2005 di Aceh masih berstatus darurat militer serta  kondisi konflik yang mengakibatkan ekonomi Aceh terpuruk. Tapi, kondisi tersebut malah jadi berkah. “Saya memilih mendirikan koperasi simpan pinjam untuk menggerakkan ekonomi,” kata Suparno.

Tahun 2006, Suparno pun mulai menyusun segala dokumen untuk mendirikan koperasi. Ketika dokumen siap, tsunami   melanda Aceh. Rencana batal karena semua warga disibukkan dengan pemulihan Aceh. Tapi tak disangka, tetap ada orang yang mau memodali Suparno sebesar Rp 2 miliar untuk mendirikan koperasi. Suparno memiliki 2.000 nasabah, namun 95% dari pinjaman nasabah tergolong kredit macet.

Meski demikian, dia tidak putus asa dan mencoba menjalankan bisnis lain. Dia pun ikut waralaba rumah makan ayam bakar dengan modal Rp 50 juta. “Usaha ini cukup berhasil. Saya coba membuka usaha serupa dengan nama sendiri. Modal yang saya siapkan Rp 500 juta untuk membangun dua rumah makan,” kenang dia.

Eh, sebelum rumah makan terwujud, uang itu lenyap gara-gara ditipu temannya. “Saya stres luar biasa, butuh enam bulan untuk bangkit,” ujarnya.

Sungguh malang karena Suparno harus kena tipu lagi sebesar Rp 15 juta. Ketika ingin menjajal bisnis meb el pun dia kena tipu hingga Rp 1,3 miliar. Alhasil, Suparno mengingat, selama tahun 2007 dia menjadi korban penipuan hingga total senilai Rp 3 miliar.  

Belum cukup, pada tahun 2008, Suparno mengalami kecelakaan yang cukup serius. “Kompletlah apa yang saya rasakan, tertipu, kecelakaan, dan tahun 2008 rumah makan dengan sistem waralaba yang saya ikuti itu pun putus kontrak,” kenangnya.

Suparno bingung bukan kepalang. Dia sudah memiliki pelanggan tetapi dia tidak bisa memasak ayam bakar seperti yang ia jual selama ini.  “Kalau waralaba kan tidak pusing dengan resep. Nah, ketika kontrak kerja sama dengan waralaba itu habis, bingunglah saya karena tidak tahu resep sama sekali,” ujar dia sambil tertawa lepas.

Tapi, Suparno tidak putus asa. Dia memutuskan untuk tetap berjualan ayam goreng dengan bumbu yang masih uji coba. “Kami minta maaf ke pelanggan karena rasa ayam goreng kami belum konsisten,” ujarnya. Pada 10 November 2009, Suparno  menggunak an nama Ayam Lepaas sebagai bendera usahanya. Bumbu sederhana racikan Suparno, ternyata, memikat lidah banyak pengunjung.

Konsep bisnis Ayam Lepaas yang sederhana, dari sisi menu dan penyajian, justru membuat usaha ini berkembang dengan  cepat. “Orang makan itu butuh enak, cepat penyajiannya, dan harga cocok di kantong,” kata ayah dari lima anak ini tentang kunci sukses Ayam Lepaas.    


Bisnis ayam goreng masih renyah

Bisnis ayam goreng masih renyah

JAKARTA. Ayam goreng berbalut tepung menjadi salah satu menu andalan pengusaha makanan cepat saji. Meski banyak jenis makanan baru bermunculan, makanan yang akrab dengan sebutan fried chicken ini bisa dibilang menjadi salah satu jawara lantaran punya banyak penggemar.  

Ayam goreng tepung memang menggoda selera dari kalangan menengah bawah yang punya pasar luar biasa besar. Rasa gurih dan renyah daru lapisan tepung yang membalut daging ayam menjadi daya tarik anak-anak hingga remaja.

Menu makanan yang satu ini juga menjadi pilihan bagi orang yang memiliki waktu terbatas. Maklum, untuk menyantapnya, tidak membutuhkan waktu lama. Wajar bila banyakrestoran cepat saji yang mengandalkan menu ini terus bertumbuh hingga kini.

Agar pembaca bisa menghitung prospek dan potensi bisnis ini, KONTAN mengulas tiga merek usaha yang mengusung menu andalan ayam goreng tepung, yaitu Quick Chicken, Red Chicken dan Rocket Fried Chicken.

Gerai ketiga usaha ini masih terus bertumbuh. Bahkan, dua diantaranya tumbuh signifikan. Ketiga brand usaha ini mampu bersaing, lantaran membidik pasar menengah ke bawah yang terbilang besar. Simak ulasannya:

Quick Chicken

Quick Chicken berdiri sejak tahun 2000 di Yogyakarta. Pemiliknya mulai menawarkan kemitraan sejak 2008 silam. Brand yang satu ini sudah cukup dikenal masyarakat, karena gerai merek ini banyak dan telah tersebar di berbagai kawasan.

Saat KONTAN mengulas usaha ini April 2011, gerai Quick Chicken 146." Kini sudah ada total 229 gerai," kata Indra Sofyan, Franchise and Marketing Manager Quick Chicken. Sebanyak 72 gerai milik pusat, selebihnya milik mitra.

Semula, Quick Chicken hanya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, dalam setahun terakhir,  cukup banyak gerai yang dibuka di Jabodetabek, Kalimantan dan Sulawesi. Menurut Indra, selain karena promosi, gerai terus bertambah karena pihaknya menjaga ketat penerapan s tandar operasional setiap gerai.

"Kami fokus pada pengembangan internal. Jika operasional baik, maka pengunjung pasti ramai. Baik pelanggan maupun calon mitra tentu akan tertarik," kata Indra.

Strategi lainnya, dengan memberikan harga yang kompetitif. Bagi pelanggan, Quick Chicken menawarkan paket mulai dari Rp 8.500 untuk satu paket nasi, ayam goreng tepung, serta minuman.

Sementara, bagi calon mitra, harga paket investasi pun telah dipangkas menjadi lebih murah. Sebelumnya, Quick Chicken menawarkan paket investasi sebesar Rp 316 juta. Ini sudah termasuk franchise fee Rp 25 juta selama 5 tahun, peralatan, bahan baku awal, renovasi dan opening fee.

Sekarang, paket investasi diturunkan menjadi Rp 297 juta "Harga franchise fee sebetulnya naik, tapi kami bisa menekan harga beli perlengkapan dan renovasi karena membeli dalam partai besar," papar Indra.

Quick Chicken menargetkan tahun ini bisa menambah 40 mitra. "Dalam dua bulan pertama, target tersebut telah tercapai 15% atau sudah ada 6 mitra baru," klaim Indra.

Red Chicken

Red Chicken merupakan kemitraan ayam goreng tepung yang awalnya berdiri di Semarang pada 2009 . Setahun kemudian, pemilik Red Chicken, Muhammad Mashar, membuka peluang kemitraan untuk memperluas jaringan bisnisnya.

Ketika awal 2012 KONTAN mengulas kemitraan ini, sudah ada enam gerai Red Chicken yang dimiliki oleh mitra, selain satu gerai milik sendiri.Hanya dalam setahun, gerai ini berkembang pesat, hingga memiliki total 33 gerai saat ini. Sepuluh di antaranya milik Mashar. Gerai tersebut tersebar di Surabaya, Cirebon, Semarang, Bandung, Pematang Siantar, dan Palembang.

Mashar optimistis, selama ayam goreng citarasa Barat masih dinikmati masyarakat, bisnis ayam goreng miliknya akan terus berkibar. Apalagi, Mashar menyajikan ayam goreng tepung dengan harga yang relatif murah. Sampai sekarang, dia belum menaikkan harga jual produk. Satu potong ayam dijual berkisar Rp 4.000-Rp 7.000.

Dia bilang, lantaran Red Chicken menyasar konsumen  kelas menengah, bisnis ini punya banyak pesaing. Jadi, Mashar tidak berani mengambil resiko penurunan omzet mitra, ji ka mengerek harga jual produk.
Dengan harga jual yang sama, dia yakin, mitra bisa mengantongi omzet mulai dari Rp 220.000 hingga Rp 1,7 juta dalam sehari. Artinya, saban bulan mitra bisa meraup omzet berkisar Rp 6,6 - Rp 51 juta. Setelah lima tahun berjalan, mitra wajib membayar royalty fee 5% dari omzet.

Sejauh ini, paket investasi yang ditawarkan Red Chicken tidak berubah dibandingkan tahun lalu. Red Chicken menawarkan enam paket pilihan, yakni paket mini konter senilai Rp 3,8 juta. Lalu, paket becak senilai Rp 6 juta. Paket booth dengan investasi Rp 6,8 juta. Paket motor roda tiga sebesar Rp 9,8 juta. Paket corner senilai Rp 19,8 juta. Adapun paket termahal, full resto dengan biaya Rp 68 juta.

Mashar mengklaim, keberhasilannya menggaet mitra juga didukung banyaknya pilihan paket yang ditawarkan. "Kebanyakan mitra tertarik beli paket mini konter, karena investasi yang relatif terjangkau," ujarnya.

Pria asli Semarang ini tidak menargetkan pertambahan jumlah mitra di tahun ini. Dia bilang, tahun ini ingin fokus memperbaiki kualitas produk. Dia akan menambah produk minuman, seperti es teh di setiap gerai Red Chicken.

Rocket Fried Chicken

Meski tidak secepat dua brand sebelumnya, namun bisnis Rocket Fried Chicken (RFC) asal Bandung masih menunjukkan pertumbuhan. Tahun lalu, RFC memiliki 70 gerai, di mana 60 gerai merupakan milik mitra. Tahun ini, RFC baru menambah lima gerai milik mitra.

Marketing Franchise RFC Reno Syafrudin bilang, pertumbuhan agak lambat lantaran banyak kompetitor baru bermunculan di Bandung.

Menurut Reno, setidaknya ada dua brand franchise ayam goreng krispi baru yang hadir di Bandung. Keduanya menjadi kompetitor kuat RFC. "Mereka bahkan menawarkan paket waralaba yang lebih murah. Tapi, saat ini, kami belum berencana mengubah harga jual produk maupun paket franchise," katanya.

RFC menawarkan 4 paket investasi. Paket pertama, kios 24 meter persegi (m2) den gan investasi Rp 65 juta. Lalu, paket ruko 40 m2 sebesar Rp 105 juta. Paket mini cafe 80 m2 senilai Rp 165 juta, dan paket resto 120 m2 dengan investasi Rp 225 juta.

Mitra akan dibekali dengan hak penggunaan merek Rocket Fried Chicken, manajemen dan sistem franchise yang teratur, dukungan survei dan training dari pusat, bahan baku, promosi, dan resep.

Reno tidak mengubah besaran paket investasi, lantaran dia masih yakin bisnis ini menarik dan memberi keuntungan bagus. Asal tahu saja, target konsumen dari RFC cukup besar, yaitu dari kalangan menengah ke bawah. Harga menunya sangat terjangkau, yaitu berkisar Rp 6.000 hingga Rp 7000.

Mitra diharapkan bisa balik modal dalam 10-26 bulan. "Bahkan di Tolitoli, Sulawesi Tengah sudah ada yang balik modal dalam 6 bulan," klaim Reno.

Kata Reno, supaya target balik modal tercapai, ia menyarankan mitra membuka gerai di lokasi yang belum  ada kompetitor. Selain itu, tempat juga harus cukup luas, agar bisa menarik konsumen yang betah nongkrong berlama-lama di gerai RFC. 

Peluang berjualan camilan Long Waffle

Peluang berjualan camilan Long Waffle

Setelah sukses mengembangkan bisnis Donat Kentang P-Do, Riko Ngantung kembali kembali berinovasi. Kali ini, ia menjajal usaha camilan bernama Long Waffle.

Long Waffle adalah kreasi kue sepit atau waffle dengan bentuk yang lebih panjang dari waffle umumnya. Camilan ini disajikan dengan cara ditusuk menyerupai sate. Long Waffle memiliki keistimewaan, yaitu tekstur yang lembut dan harum.

Pilihan rasa yang ditawarkan juga berbeda dengan waffle pada umumnya, yaitu tersedia dengan berbagai rasa, seperti almon, wijen, dan kismis. Camilan  ini dibanderol Rp 4.000-Rp 5.000 per buah.

Walaupun penganan waffle belum merakyat di Indonesia, namun harganya yang terjangkau serta rasa dan bentuk yang unik bisa menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat. Makanya, meski baru dibuka tahun lalu, namun sudah banyak peminatnya.

Alhasil, sejak Februari, Riko sudah berani menawarkan kemitraan Long Waffle. Anda yang ingin mencoba peluang usaha makanan yang tidak pasaran, bisa memilih tawaran ini. Paket investasinya sebesar Rp 8 juta. Mitra akan mendapatkan booth, set pemanggang, brosur, standing banner, bakan baku waffle, peralatan masalah, serta pelatihan membuat waffle.

Riko memperkirakan, mitra bisa mengantongi omzet Rp 300.000 per hari, sehingga dalam sebulan bisa mencapai Rp 8 juta-Rp 9 juta. Laba bersihnya sekitar 32% atau setara  Rp 3 juta per bulan. "Balik modal bisa didapat sekitar enam bulan," ujarnya.

Fulus mengalir dari berjualan alat tulis

Fulus mengalir dari berjualan alat tulis

JAKARTA. Banyak tawaran kemitraan di bidang makanan. Kali ini seorang pengusaha asal Jakarta, Rudi, menawarkan peluang bisnis stationery atau alat tulis. Ia melihat ada potensi besar di bidang ini  lantaran dibutuhkan banyak orang, harga produk tidak fluktuatif, serta barang yang tidak mengenal kadaluarsa. Makanya, sejak awal 2012, di bawah bendera PT Tridi Maju Bersama, ia membuka toko alat tulis bernama "Pensil".

Toko perdananya di Bekasi mengincar kalangan anak sekolah dan remaja. Makanya, tema toko yang diambil juga sangat unik, yaitu fancy stationary. “Selama ini, anak-anak dan remaja jika melihat alat tulis yang lucu, dia pasti beli. Tanpa menawar,” kata Rudi.

Melihat perilaku konsumen semacam itu, Rudi optimistis usaha ini berpotensi bagus. Makanya, setelah punya tiga gerai, dan bisnisnya mapan, ia membuka peluang kemitraan sejak November 2012.

Rudi menargetkan setiap toko dibuka di wilayah yang dekat dengan perumahan dan sekolah. “Kini, anak sekolah tidak lagi harus ke mal yang jauh untuk mencari alat tulis yang lengkap dan dikemas secara unik,” ujarnya.  

Ada management fee

Nah, bagi Anda yang tertarik menjadi mitra toko Pensil harus menyiapkan investasi Rp 120 juta. Mitra akan mendapat peralatan lengkap seperti rak, gondola besi, serta stok barang. Interior juga akan disiapkan. Semua stok barang akan diatur secara seragam dan terkomputerisasi.

Mitra hanya menyiapkan tempat semacam ruko. “Konsepnya seperti Indomaret, tapi barang yang dijual fancy stacionary,” kata Rudi.

Toko Pencil akan dijalankan secara profesional dengan standar operational procedure (SOP). Pusat akan melakukan promosi yang sistematis, yaitu dengan menyebarkan katalog promosi ke area perumahan dengan radius 2 kilometer dari toko.

Selain paket investasi, di awal berbisnis, mitra wajib membayar management fee Rp 45 juta untuk lima tahun.

Rudi memperkirakan, mitra bisa mengumpulkan omzet Rp 80 juta sebulan dengan perkiraan, keuntungan bersih  10%-20%. Mitra diharapkan balik modal 1-1,5 tahun.

Tawaran kemitraan Pensil ini seperti cukup menarik. Buktinya, pada Februari lalu,  sudah ada empat mitra yang membuka  4 toko baru di Tangerang dan Bekasi.

Pengamat Waralaba, Amir Karamoy menilai, ide kemitraan di bidang stationary sangat unik. Dari segi produk, ada peluang bagus di bisnis ini. “Jika kita lihat di toko buku besar, anak-anak sangat gemar membeli kertas-kertas lucu,” ujarnya.
 
Namun, dia mengingatkan  calon mitra supaya teliti sebelum memulai usaha. "Setidaknya, pelajari trade record usaha itu, menguntungkan atau tidak. Selain itu, mereka setidaknya sudah punya tiga gerai sebagai bukti bisnisnya berkembang," ucap Amir.

Peluang berjualan camilan Twister Dog

Peluang berjualan camilan Twister Dog

Camilan kentang ulir panjang yang ditusuk dengan lidi (twister) sedang populer di kota besar. Makanan berbentuk unik ini kerap dijajakan pada event atau keramaian di masyarakat. Adalah Jackie Hendropurwanto yang sudah menggeluti usaha ini sejak 2010 silam.

Ia membuat pisau ulir khusus (mesin) untuk memotong kentang hingga bisa berbentuk ulir panjang. Berbeda dengan buatan orang lain, pria yang akrab disapa Hendro ini menyisipkan sosis pada setiap lidi penusuk kentang. Camilan ini dinamai Twister Dog.

Satu tusuk Twister Dog dijual seharga Rp 7.000. Setahun kemudian, produk ini kian populer di masyarakat. Bahkan, banyak yang ingin membeli pisau buatannya. Makanya, sejak 2011, Hendro menawarkan peluang usaha Twister Dog.

Dia mengemas dua paket usaha, yaitu seharga Rp 3,5 juta dan Rp 5 juta. Paket pertama terdiri dari mesin dan penggorengan khusus. Sedangkan, paket kedua merupakan paket komplit, yaitu pisau alias mesin, CD cara penggunaan mesin, penggorengan, plus kompor, sehingga bisa langsung berjualan.

Hendro tidak mengikat pelanggan untuk menggunakan brand Twister Dog. "Ini bisnis putus, bahkan bisa membeli mesin saja seharga Rp 1,5 juta," bebernya.

Dia memperkirakan, dari berjualan Twister Dog rata-rata bisa meraup omzet Rp 6 juta sebulan. “Saat buka di JGTC, saya bisa dapat Rp 11 juta hanya di event itu,” ujar Hendro. Keuntungan bersih bisa mencapai 50% dari omzet.

Bisnis waralaba masih menjanjikan

Bisnis waralaba masih menjanjikan

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan dua aturan mengenai keberadaan bisnis waralaba di dalam negeri. Pertama, Peraturan Menteri Perdagangan nomor 68/M-DAG/PER/10/2012 tentang Waralaba untuk Jenis Usaha Toko Modern. Kedua, Permendag 07/2013 yang mengatur waralaba restoran.

Beberapa pihak melihat, kedua aturan ini mengancam keberadaan dan prospek bisnis waralaba. Namun, Asosiasi Franchise Indonesia memiliki pandangan lain.

AFI melihat, meski keberadaan waralaba diatur dalam dua aturan itu, peluang usaha waralaba di Indonesia masih menjanjikan. Ketua Asosiasi Franchise Indonesia Anang Sukandar mengatakan, meski belum sebesar bisnis peluang usaha (bisnis opportunity), bisnis waralaba tetap tumbuh positif.

"Kalau prospek franchise masih kelihatan tidak terlampau optimis ya, karena banyak yang berkembang cuma bisnis opportunity. Pertumbuhan waralaba 2 persen paling, itu pun kalau ada. Itu kan kecil sekali. Kalau bisnis opportunity itu banyak, bisa 8 persen," kata Anang di Balai Kartini, Sabtu (2/3).

Menurut Anang, masyarakat perlu memahami perbedaan antara waralaba dengan peluang usaha. Ciri khas dari bisnis waralaba adalah keunikannya. "Banyak orang yang tidak mengerti franchise. Franchise itu harus memiliki ciri khas. (Peluang Usaha) Aku bilang keunikan tidak ada. Ciri khas itu adalah yang tidak bisa ditiru," jelas Anang.

Usaha bentuk waralaba juga memiliki standar yang sama di mana pun gerai berada. "Banyak franchise umumnya itu berawal dari bisnis opportunity. Es Teler 77, itu kan dulu di emperan," tuturnya.

Dia menambahkan, usaha dalam bentuk apapun bisa masuk kategori waralaba jika sudah mampu melewati masa perjuangan untuk branding selama lima tahun.

"Misalnya Es Teller 77, sudah 31 tahun. Karena memang paling sedikit 5 tahun," katanya.

{paging_prev_label}
{paging_next_label}